Bukan RI, Ini Negara dengan Anggaran Militer Terbesar di ASEAN

Jakarta, CNBC Indonesia – Belanja militer global terus meningkat meski isu perdamaian dunia terus digalakkan. Tidak hanya raksasa dunia seperti Amerika Serikat (AS) dan China, belanja negara dalam jumlah besar juga dihabiskan negara anggota ASEAN.

Data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), pengeluaran militer di seluruh dunia berjumlah US$2,24 triliun atau setara Rp 34.686 triliun atau Rp34,7 kuadraliun (US$1 = Rp15.485) pada 2022. Alasannya adalah perang Rusia-Ukraina serta meningkatnya ketegangan di Laut Cina Selatan. Amerika Serikat menyumbang hampir 40% dari total belanja militer secara global.

Besarnya belanja AS membuat Paman Sam menjadi negara dengan kekuatan militer terkuat di dunia. Dilansir dari Global Fire Power (GFP) pada 2023, Amerika Serikat (AS) merupakan negara dengan kekuatan militer terkuat di dunia dengan power index sebesar 0,0712.

Hal tersebut terjadi karena AS sering mengambil peran utama dalam organisasi internasional, dan merupakan kekuatan pendiri di belakang lembaga-lembaga seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), NATO, dan Bank Dunia.

Selain AS, Rusia juga memiliki kekuatan militer terbaik dengan power index 0,0714 dan berada di peringkat kedua disusul oleh China di peringkat ketiga dengan power index 0,0722.

Untuk diketahui, Rusia dan China merupakan anggota dari organisasi internasional seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik.

Di samping itu, untuk masuk sebagai negara dengan kekuatan militer terbaik, diperlukan anggaran yang besar agar dapat mempunyai peralatan alutsista yang memadai dalam upaya pertahanan.

Anggaran Militer Negara ASEAN

Negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN) memilki anggaran militer yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi keuangan dan keputusan dari pemerintah itu sendiri.

Di ASEAN, negara Singapura memiliki anggaran militer terbesar yang relatif terus mengalami kenaikan dari kisaran Rp167,21 triliun pada 2018 menjadi Rp191,23 triliun pada 2022 atau naik 14,36% dalam empat tahun.

Pada tahun 2022, pengeluaran militer Singapura diperkirakan sekitar 2,77% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut. Pengeluaran militer terhadap PDB di Singapura telah menurun selama bertahun-tahun. Meskipun demikian, Singapura masih membelanjakan lebih banyak nilai riil untuk militernya dibandingkan negara tetangganya, Indonesia dan Malaysia.

Singapura dan Jepang juga telah menandatangani kesepakatan mengenai transfer alutsista dan teknologi pada 2022. Perjanjian ini merupakan tindak lanjut dari peningkatan nota pertukaran pertahanan yang ditandatangani kedua negara pada bulan Juni 2022, dan perjanjian ini menetapkan kerangka hukum untuk impor dan ekspor peralatan dan teknologi pertahanan antara kedua negara tersebut.

Hal ini memberi angkatan bersenjata Singapura lebih banyak pilihan untuk memenuhi persyaratan pelatihan dan operasionalnya.

Sedangkan Thailand, Filipina, dan Malaysia berada di bawah Singapura maupun Indonesia soal anggaran militernya.

Strategi Keamanan Nasional Thailand terutama berfokus pada menjaga kesiapan tempur untuk melindungi negara secara memadai, memperkuat angkatan bersenjata untuk melindungi kepentingan negara, menetralisir perlombaan senjata regional di antara ASEAN, dan memodernisasi angkatan bersenjata negara tersebut.

Pemerintah Thailand juga berencana mengembangkan industri pertahanan dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan negara pada impor, mendorong transfer teknologi, dan memperkuat keamanan nasional.

Sementara anggaran militer Malaysia meskipun lebih rendah dibandingkan beberapa negara lainnya, namun relatif terus mengalami apresiasi setiap tahunnya.

Peningkatan anggaran pertahanan diperkirakan akan mempercepat upaya modernisasi militer, yang mungkin akan membuahkan hasil dan peningkatan dari banyak program pengadaan yang direncanakan.

Anggaran tersebut juga akan mendukung kemampuan tanggap bencana dan komitmen internasional serta memberikan kontribusi terhadap kepentingan perekonomian negara.

Indonesia yang memiliki anggaran militer fungsi pertahanan kedua terbesar di ASEAN atau hanya berada satu level di bawah Singapura. Anggaran militer yang terus meningkat ini juga yang membuat Indonesia bertengger di peringkat 13 sebagai negara dengan kekuatan militer terkuat di dunia pada 2023 diikuti power index sebesar 0,2221.

Anggaran militer Indonesia pada 2018 hanya sebesar Rp106,68 triliun dan bertumbuh 41% menjadi Rp150,4 triliun pada 2022.

Merujuk data Kementerian Keuangan, anggaran dalam fungsi pertahanan dilaksanakan oleh tiga kementerian/lembaga (K/L), yaitu Kementerian Pertahanan, Dewan Ketahanan Nasional, dan Lembaga Ketahanan Nasional. Dalam kurun waktu tahun anggaran 2019-2022, realisasi anggaran fungsi pertahanan secara nominal mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 9,2% yaitu dari Rp115, 4 triliun pada 2019 menjadi Rp150,3 triliun pada 2022.

Sejak 2019-2024, Kemhan serta Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat selalu bergantian di daftar K/L penerima anggaran terbesar.
Pengecualian terjadi pada 2020 di mana Kementerian Kesehatan menjadi K/L dengan anggaran terbesar. Kondisi tersebut sejalan dengan besarnya anggaran penanganan Covid-19.

Salah satu penggunaan anggaran Kementerian Pertahanan adalah untuk pembaharuan senjata. Di antara alutsista yang diperbaharui adalah pembelian pesawat tempur Rafale dari pabrikan Dassault Aviation asal Perancis. Kemudian ada juga kapal selam Scorpene asal Perancis, pesawat Airbus A400M. 
Indonesia juga menandatangani kontrak pemesanan dua pesawat Airbus produksi Perancis, kapal perang fregat dari perusahaan Italia, Fincantier, serta radar militer jarak jauh Ground Master 400 Alpha (GM400a) produksi perusahaan Perancis, Thales.

Sementara untuk tahun 2024, Kemenhan mendapat anggaran jumbo sebesar Rp139,27 triliun. https://zorozuno.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*