Soal China, Anies & Ganjar Ternyata Satu Pandangan

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden nomor urut 1 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar ingin membuat Indonesia ke depan tidak lagi ketergantungan dengan China.

Hal ini diungkapkan oleh Co-Captain Tim Nasional Pemenangan Anies-Muhaimin (Timnas AMIN) Thomas Lembong. Menurutnya, kebijakan ini akan ditempuh untuk menghindari dampak ketergantungan ekonomi RI pada satu negara saja.

“Kita sebetulnya mengulangi kesalahan yang sama yang dibuat oleh banyak negara termasuk misalnya Jerman, yaitu menciptakan ketergantungan berlebihan kepada hanya satu satu negara, yaitu Tiongkok,” kata Tom dalam program Your Money Your Vote CNBC Indonesia, seperti dikutip Jumat (5/1/2023).

Karena ketergantungan berlebih ekonomi Indonesia terhadap China seperti saat ini, Tom mengatakan, maka tatkala ekonomi China mulai melemah kinerja ekonomi Indonesia turut terdampak, mulai dari komponen ekspor-impor.

“Bukan hanya ekspor, tapi banyak hal lain lah yang mereka juga tidak lagi seroyal dulu, mengucurkan kredit dalam jumlah besar, mereka sekarang juga harus menarik diri ya untuk menghemat keuangan mereka,” tegas Tom.

“Akhirnya kita klepek-klepek gitu karena ketergantungan yang berlebihan pada satu mitra dagang saja ya, dominansi satu mitra dagang itu sangat bermasalah,” ungkapnya.

Beberapa kalangan pun telah mengonfirmasi bahwa setiap pelemahan 1% ekonomi China, akan membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia melemah 0,3%-0,6%. Ini diantaranya pernah disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan mantan Menteri Keuangan Chatib Basri.

Badan Pusat Statistik (BPS) pun mencatat, China masih menjadi negara pangsa ekspor terbesar Indonesia. Januari-November 2023, porsinya sebesar 25,49% dari total negara tujuan ekspor Indonesia. Di bawahnya pun negara-negara ASEAN yang porsinya 18,56%, baru Amerika Serikat 9,54%, India 8,31%, dan Uni Eropa 6,84%.

Dari segi impor pun sama, Indonesia mayoritas mengimpor berbagai kebutuhannya dari China dengan porsi pangsa nilai impornya sebesar 33,31% pada periode Januari-November 2023. Di bawahnya ASEAN tanpa Thailand 11,2%, Jepang 8,92%, Uni Eropa 6,54%, dan Thailand 6,54%.

“Di saat yang sama, karena kita begitu pede dengan pertumbuhan ekspor kita ke Tiongkok, akhirnya kita berantem dengan Uni Eropa, soal sawit, soal nikel, padahal kita butuh diversifikasi, kita butuh banyak mitra dagang, jangan cuma satu,” tegas Tom.

Oleh sebab itu, Tom memastikan paslon AMIN akan mereformasi hubungan dengan mitra dagang tersebut melalui langkah-langkah yang sesuai dengan kepentingan nasional, dan kebutuhan untuk mendiversifikasi negara mitra ekonomi.

“Itu yang membuat kami mengkonsepkan yang namanya kebijakan berbasis nilai atau values based policy karena kita harus jelas apa nilai-nilai yang kita pegang teguh, apa norma-norma yang kita pegang teguh, itu yang harus menjadi kompas,” tutur Tom.

Tak Boleh China-sentris

Namun, tidak hanya Anies dan Cak Imin, rupayanya pasangan calon Ganjar Pranowo dan Mahfud MD juga memiliki pandangan sama. Anggota Dewan Pakar Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Sunarsip mengakui bahwa ekonomi Indonesia saat ini masih terlalu bergantung ke China. Karena itu, dia mengatakan Ganjar-Mahfud akan melakukan diversifikasi hubungan internasional.

“Kalau kita ingin kejar pertumbuhan ekonomi tinggi dan tentu tetap berkualitas dan menjaga pemerataan ekonomi tentu kita fokus pada kekuatan kita sambil melakukan diversifikasi, kalau konteks geopolitik dan hubungan internasional, kita harus melakukan diversifikasi hubungan internasional,” kata Sunarsip dalam program Your Money Your Vote bertajuk “Jurus Ekonomi Capres-Cawapres di Tengah Perang dan Ketidakpastian Global, dikutip Jumat (4/1/2024).

“Hari ini kita terlalu China-sentris. Kita tidak boleh China-sentris lagi, saya setuju itu karena itu juga nanti bisa ketergantungan,” kata dia.

Sunarsip mengatakan ekonomi yang bergantung pada suatu negara tidak baik untuk Indonesia. Dia menilai hal ini kerap berulang. Misalnya, pada saat masa Presiden Suharto. Menurut dia, di masa awal Orde Baru Indonesia terlalu bergantung pada Amerika Serikat.

Lalu, ketergantungan Indonesia itu beralih ke Jepang pada periode 1990an. “Yang namanya sentris tidak bagus. Dulu jaman Pak Harto awal membangun sangat Amerika-sentris. Di tahun 90-an itu sangat Jepang-sentris. Sekarang beralih ke China-sentris. Itu di mana-mana tidak bagus kalau pola seperti itu dikembangkan,” ungkapnya.

Maka itu, Sunarsip mengharapkan adanya diversifikasi dalam hubungan internasional Indonesia baik di bidang perdagangan, investasi dan sebagainya. Menurut dia, ada banyak komunitas dan organisasi global yang bisa didekati oleh Indonesia untuk menjalin hubungan bisnis.

Dia mencontohkan ada komunitas BRICS (Brazil, Rusia, India, China, South Africa). Menurut dia, organisasi multilateral ini mencakup 20% Produk Domestik Bruto Dunia. Selain itu, dia memberikan contoh komunitas ekonomi di Timur Tengah yang diisi oleh Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab.

Dia bilang negara-negara Timur Tengah tengah keranjingan berinvestasi di energi baru terbarukan. Indonesia, kata dia, adalah negara yang memiliki banyak potensi energi hijau ini.

“Mereka itu punya orientasi investasi yang jadi kebutuhan kita juga, mereka ingin kembangkan pasar energinya dan kita juga butuh investor untuk mengembangkan energi kita, baik energi fosil atau energi baru terbarukan,” katanya.

Sunarsip meyakini Indonesia mempunyai berbagai potensi yang akan membuat negara lain tertarik untuk bekerja sama. Dia menilai perluasan hubungan dagang ini akan membuat ekonomi Indonesia lebih resilien terhadap ketidakpastian dunia.

“Jadi kami tetap punya prinsip yes kita punya tantangan, tapi kita punya benteng yang cukup kuat. Tinggal gimana kita manfaatkan ini untuk pembangunan,” tegasnya. https://menghadapimu.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*