Tunggu Waktu, Bahan Bakar Pesawat RI Bisa Bebas Emisi

Jakarta, CNBC Indonesia PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Subholding Refining & Petrochemical Pertamina, menargetkan bisa memproduksi bioavtur 100% pada 2026.

Saat ini, perusahaan telah berhasil memproduksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur dengan campuran 2,4% produk sawit dengan kapasitas 9.000 barel per hari (bph) di Green Refinery Kilang Cilacap. Langkah ini sejalan dengan upaya global untuk mengurangi dampak lingkungan dari industri penerbangan dan mendukung keberlanjutan energi.

Potensi Bioavtur di Indonesia

Pertamina, melalui KPI, melihat potensi besar dalam pengembangan bioavtur di Indonesia. Produksi bioavtur ini tidak hanya memanfaatkan minyak sawit, tetapi juga dapat menggunakan minyak jelantah dan lemak binatang sebagai bahan bakunya.

Dari sisi bahan baku sawit, produksi yang nyaris mencapai 50 juta ton per tahun dan sebagian masih diekspor menunjukkan peluang besar bagi Indonesia untuk bisa mengembangkan bioavtur berbasis minyak sawit.

Data Statistik Perkebunan Unggulan Nasional menunjukkan produksi sawit Indonesia mencapai 48,2 juta ton pada 2022. Jumlah ini juga menunjukkan adanya tren kenaikan, meski sempat terkoreksi pada 2020-2021 sebagai dampak Covid-19. Besarnya produksi sawit ini dapat menjadi peluang produk perkebunan ini dapat menggantikan kebutuhan bahan bakar fosil menjadi nabati. 

Selain itu, data menunjukkan volume ekspor minyak sawit (CPO) dan lainnya pada 2020 sebesar 25,9 juta ton atau setara dengan 56,6% produksi ditujukan untuk ekspor. Hal ini mengindikasikan penggunaan CPO domestik sudah mencukupi dan masih terdapat ruang lebih dari separuh untuk diolah dalam negeri dan dijadikan bioavtur. 

Potensi ini dapat memaksimalkan pemanfaatan sawit di dalam negeri dan menjadikan produk CPO Indonesia memiliki nilai tambah. Tidak hanya itu, jika proyek ini mampu membuahkan hasil berupa bioavtur yang berbasis sumber energi baru terbarukan dan sudah dapat memenuhi kebutuhan domestik, ekspor berupa bioavtur dapat memberikan nilai tambah yang jauh lebih besar. 

Sebagai catatan, harga jual Tandan Buah Segar yang dikutip dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah menunjukkan harga berada di kisaran Rp 2.060-2.100 per kg pada 4 Januari 2024. Sedangkan, harga avtur Pertamina di Bandara Cengkarang tercatat senilai Rp 9.243 per liter pada Mei 2019. 

Mengutip iatatops, setiap 1 kilo gram setara dengan 1,25 liter Jet A1 Avtur. Perlu dicatat, nilai tambah tersebut perlu mempertimbangkan ongkos produksi yang efisien dan belum memperhitungkan volume penyusutan dari setiap CPO yang diolah menjadi bioavtur.  

Sebagai informasi, kapasitas produksi bioavtur 2,4% sebesar 9.000 bph saat ini, setidaknya PT KPI mampu menghasilkan produksi bioavtur sekitar 1,4 juta liter atau 1.400 kilo liter (kl) per hari (asumsi 1 barel = 159 liter). Proyek Green Refinery Cilacap Fase I ini telah memproduksi 3.000 barel per hari (bph) Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) atau sejenis diesel.

Produk bioavtur Pertamina ini telah dilakukan uji coba pada dua maskapai di Tanah Air. Pertama, pesawat CN235-200 milik PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Kemudian, uji coba selanjutnya dilakukan bersama Garuda Indonesia dengan menggunakan jenis pesawat Boeing 737-800 NG.

Best Practice Bioavtur di Dunia

Di antara perusahaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang paling penting, perusahaan penyulingan Finlandia yang bernilai miliaran dolar, Neste, adalah perusahaan terkemuka di dunia dan akan menjadi penyedia bahan bakar terbarukan terbesar di dunia dengan kapasitas global dan jejak produksi di Amerika Utara, Asia, dan Eropa.

Komitmen Neste sudah terlihat dari penggunaan bioavtur Neste MY Sustainable Aviation Fuel (SAF). Melansir Pertamina Energy Outlook 2022, Data BPDPKS (2022) Neste merupakan pemain global bahan bakar Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dan SAF dengan pangsa pasar mencapai 69%.

Berdasarkan survei IRENA, faktor dalam menunjang keberhasilan pengembangan SAF dan HVO dapat dilakukan melalui stabilitas regulasi, subsidi, dan mandatori pencampuran (blending). Selain itu, mengutip informasi dari situs resmi Neste, bahan bakar penerbangan yang digunakannya 100% terbuat dari limbah terbarukan dan bahan baku residu berkelanjutan, seperti minyak goreng bekas dan limbah lemah hewani. 

Berdasarkan spesifikasi ASTM saat ini, campuran SAF untuk bahan bakar pesawat dapat digunakan hingga 50%. Bahan bakar tersebut kemudian disertifikasi sebagai bahan bakar jet reguler dan siap dikirim ke bandara untuk dijadikan bahan bakar pesawat.

Neste berkomitmen untuk secara drastis mengurangi emisi gas rumah kaca dalam dekade berikutnya dan mencapai produksi karbon netral pada tahun 2035. Di antara mereka yang terbang dengan bahan bakar Neste adalah tiga maskapai penerbangan besar AS: Alaska Airlines, American Airlines, dan JetBlue Airways.

Neste juga beroperasi di Asia, membentuk kemitraan inovatif dengan maskapai penerbangan terbesar Jepang All Nippon Airways, serta di Eropa, dengan memasok SAF ke maskapai penerbangan Belanda KLM. Salah satu praktik yang dapat ditiru adalah adanya kemitraan inovatif dengan berbagai maskapai, sehingga dapat produksi dapat terserap.

Persentase Campuran Bahan Bakar Nabati (BBN) dalam Bioavtur

Saat ini, Kilang Pertamina Internasional telah mencapai pencampuran 2,4% produk sawit dalam bioavtur yang diproduksi. Direktur Utama KPI Taufik Aditiyawarman, menyebutkan bahwa perusahaan tengah menyelesaikan pembangunan kilang hijau atau Green Refinery Cilacap Fase 2 berkapasitas 6.000 barel per hari (bph).

Data Statistik Minyak dan Gas yang dirilis oleh Kementerian ESDM menunjukkan hasil pengolahan minyak untuk menjadi bahan bakar avtur cukup besar, meski menunjukkan tren penurunan akibat pandemi Covid-19. Data menunjukkan sepanjang Semester-I 2022 hasil olahan avtur mencapai 6,6 juta barel. 

Penggunaan produk sawit menjadi bioavtur 100% dapat mengurangi ketergantungan produk bahan bakar fosil minyak yang masih harus diimpor dan mengurangi bahan bakar fosil. Tentu, hal ini dapat menjadi sentimen positif untuk memperkuat perekonomian dan lingkungan.

Kilang ini diharapkan dapat memproduksi bioavtur dengan campuran minyak sawit hingga 100% dalam waktu beberapa tahun mendatang. KPI tidak hanya mengandalkan minyak sawit sebagai bahan baku utama, tetapi juga mempertimbangkan used-cooking oil (minyak jelantah) dan lemak binatang sebagai sumber multiple feedstock.

Diversifikasi ini memberikan fleksibilitas dan keberlanjutan dalam produksi bioavtur, sambil mengurangi dampak lingkungan dan ketergantungan pada satu jenis bahan baku. Dengan demikian, Indonesia berpotensi menjadi pemain utama dalam pengembangan dan produksi bioavtur di Asia Tenggara.

Tantangan & Keuntungan Pengembangan Bioavtur

Meskipun pihak Kilang Pertamina Internasional optimistis, pengembangan bioavtur dihadapkan pada beberapa tantangan. Salah satu tantangan utama adalah memastikan ketersediaan bahan baku dalam jumlah yang cukup dan berkelanjutan. Selain itu, diperlukan investasi besar dalam infrastruktur dan teknologi untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi standar internasional.

Produksi bioavtur di Kilang Cilacap memberikan beberapa keuntungan signifikan. Pertama, bioavtur dapat membantu mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah, mengingat kebutuhan avtur di bandara Indonesia mencapai 21 juta barel per tahun. Kedua, penggunaan bioavtur dengan campuran 2,4% produk sawit dapat mengurangi impor minyak mentah untuk produksi avtur berbasis fosil di dalam negeri.

Sebagai catatan, Indonesia masih mengimpor produk minyak dengan jumlah cukup besar. Data Handbook of Energy & Economic Statistics of Indonesia 2022 menunjukkan impor mencapai 27,86 kilo liter (kl) pada 2022. Dengan demikian, impor domestik dapat ditekan dan perekonomian menjadi lebih baik.

Langkah ambisius KPI menuju produksi bioavtur 100% menandai pergeseran menuju energi yang lebih ramah lingkungan di sektor penerbangan Indonesia. Dengan menggabungkan praktik terbaik global, diversifikasi bahan baku, dan komitmen terhadap keberlanjutan, perusahaan ini berada di jalur yang tepat untuk menjadi pemimpin dalam penyediaan bioavtur di tingkat nasional dan regional.

Diharapkan, langkah ini juga akan mendukung visi pemerintah untuk meningkatkan persentase campuran bioavtur hingga 5% pada tahun 2030. Bahkan, produk ini berpotensi masih bisa diekspor ke pasar internasional. https://mantrasungokong.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*