Peringati Hari Ibu, Perpusnas Gelar Bedah Buku Pemberdayaan Perempuan

Bedah buku Pemberdayaan Perempuan yang digelar Perpusnas dalam memperingati Hari Ibu, di Jakarta, Jumat (22/12). (Foto: Istimewa)
Bedah buku Pemberdayaan Perempuan yang digelar Perpusnas dalam memperingati Hari Ibu, di Jakarta, Jumat (22/12). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka – Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menggelar Peringatan ke-95 Hari Ibu, dengan bedah buku yang mengupas Pemberdayaan Perempuan, Jumat (22/12). Dalam bedah buku, dibahas kesetaraan dan peranan perempuan dan ibu dalam pembangunan dengan menyiapkan generasi unggul bangsa.

Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas Adin Bondar, dalam sambutannya, mengutip filsuf China abad ke-6 SM, Konfusius, bahwa keselarasan, kecerdasan, dan intimasi anak memerlukan stimulasi dari keluarga.

“Ketika keluarga lemah, negara lemah. Demikian sebaliknya, jika keluarga kuat, negara kuat. Dan kecerdasan motorik anak berangkat dari keluarga, dalam hal ini peran ibu,” terangnya.

Adin lalu bicara kehadiran perpustakaan dalam membantu menyiapkan generasi unggul. Kata dia, sebagai ruang edukasi, perpustakaan merupakan ruang terbuka bagi masyarakat. Praktik-praktik baik yang dilakukan melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) menghadirkan dampak pada pertumbuhan ekonomi keluarga.

Peran perpustakaan dalam pemberdayaan dan pendampingan terhadap perempuan dan ibu adalah gerakan yang terintegrasi agar perempuan mendapat kehormatan kemuliaan dan pengakuan terhadap dirinya sendiri sebagai pelaku pembangunan.

Penulis buku ‘Pemberdayaan Perempuan Menjadi Pujian bagi Istri yang Bijak’, Sisca Buniaty Manik, mengatakan ide ia menulis buku berawal dari cerita orang sekitar yang mengalami kekerasan, kurang mendapatkan perlakuan keadilan dari pasangan.

“Buku ini lintas gender. Ketika istri sudah baik memperlakukan, maka suami wajib memberikan pujian sehingga tercipta keharmonisan keluarga,” ujar Sisca.

Perempuan secara kodrati membantu suami dan rumah tangga, mulai dari mengatur keuangan, kerapian, hingga kebersihan rumah. Perempuan dianalogikan sebagai penolong yang layak mendapatkan pujian. 

“Kalau perempuan bisa dimuliakan, maka itu sesuatu yang hebat. Buku ini terlalu sempurna menggambarkan sosok suami atau istri yang ideal. Meski kenyataannya tidak selalu demikian,” ucap Ketua Program Studi Informatika dari Universitas Bakrie, Hoga Saragih, yang menjadi salah satu pembahas buku itu.

Buku itu menampilkan sisi ideal mahkluk Tuhan yang diciptakan berbeda tapi posisinya setara. Masyarakat budaya timur seringkali memberikan perspektif bahwa laki-laki menempati derajat tinggi. Apalagi diperkuat paham patriarki yang turun temurun diwariskan melalui tangan-tangan perempuan yang belum mendapatkan edukasi sebenarnya mengenai kesetaraan sehingga keliru menanamkan pemahaman kepada anak.  

“Ibu adalah pendidik utama dan terutama. Andai tugas ibu di rumah dijadikan sebagai pekerjaan profesional, kira-kira berani digaji berapa. Pasti tidak ternilai,” ucap pemerhati dan aktivis perlindungan perempuan dan anak, Imelda Berwanty Purba.https://popicedingin.com/wp-admin/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*